Bangun tidur, baru terasa badan remuk redam gara-gara dibanting-banting selama berada di speedboat kemarin. Memang, umur tidak b
isa bohong. Baru saja mau ngulet, eh teringat bahwa hari ini adalah hari yang penuh jalan-jalan... Wah, sayang kalau tidak dimanfaatkan benar-benar. “Pegelnya disimpan dulu saja buat di rumah,” batin saya. Badan pun langsung saya gerakakkan dengan loncatan kecil menuju kamar mandi untuk bersiap.
Cuaca Bangkok ternyata ramah sekali dengan kedatangan kami. Matahari pun tersenyum manis buat kami. Dan, sepertinya dia tidak sekedar tersenyum, tapi terbahak-bahak karena sinar yang dilimpahkan ke bumi Bangkok terlalu banyak. Terik nian, mang! Kami pun menjadi agak sangsi dengan pemberitaan bahwa Thailand kebanjiran karena kami sedikit pun belum terkena tetesan air hujan (Memang repot yah jadi manusia: Diberi cerah terik, mengeluh...Begitu diberi hujan, menggerutu).
Setelah mengisi ulang energi tubuh dengan sarapan yang ke-bule-bule-an, kami pun langsung bersiap untuk naik ke bis dan menunaikan city tour. Kata “menunaikan” kesannya ngga banget deh... Soalnya menunaikan kan mempunyai makna “melakukan suatu kewajiban, suatu tindakan bersifat kerja”. Padahal, yang kami mau lakukan pagi ini adalah sesuatu yang bersifat senang-senang. Yah, kapan lagi kalau tidak di F3 Trip senang-senangnya. Betul, saudara?
Bangun Pagi Menengok Budha Tidur
Rombongan wisata F3 kali ini memang terkenal disiplin. Pernyataan yang pernah dikatakan oleh tour leader ini pun kembali saya amini. Bagaimana tidak, coba... Saya baru saja mengambil sarapan, sebagian besar dari mereka sudah berada di sekitar bis. Bahkan, ada beberapa yang sudah nongkrong di bangku mereka masing-masing. Hebat! Hal ini memang masuk akal karena
semenjak semalam, para pemandu wisata sudah mengingatkan agar kita berangkat sepagi mungkin untuk menghindari antrian panjang ketika tour city nanti.
Sekitar pukul 8.00, kami berangkat ke kuil Reclining Buddha atau Kuil Budha Tidur. Tidak seberapa lama, kami sudah sampai di sana. Suasana sakral dan mistis masih begitu kental di area kuil ini. Peraturannya pun tampak sangat ketat, pengunjung harus melepaskan topi dan sandal saat memasuki area. Dan, satu aturan lagi yang paling penting, pengunjung dilarang menggunakan pakaian seksi saat berkunjung di kuil ini. Bagi kami, mungkin larangan ini mudah diaplikasikan, tetapi bagi para bule yang tidak kuat berkutat dalam udara panas, tentu hal ini adalah suatu cobaan.
Seperti namanya, Kuil Reclining Budha memang menyimpan patung Budha yang sedang tidur berukuran raksasa. Patung itu membentang memenuhi ruangan. Terbuat dari beton yang dilapisi emas, patung Sang Budha tampak nyaman tiduran di tengah ruangan. Memandang patung tersebut menimbulkan kekaguman tersendiri. Budha tiduran sambil tersenyum... Sepertinya, Dia memang tersenyum buat kami karena limpahan anugrah sehingga sampai detik ini pun semuanya lancar, tidak ada hujan, tidak terkena banjir, tidak tergigit buaya yang katanya lepas dari penangkaran.
Istana Negara yang Tak Dihuni Kepala Negara
Setelah selesai mengunjungi kuil Budha Tidur, kami pun melanjutkan perjalanan ke Grand Palace. Seperti namanya, istana ini memang super luas dan super megah. Adalah mengherankan jika Sri Maharaj Bhumibol Adulyadej atau yang dikenal dengan raja IX tidak mau menetap di istana yang super duper megah ini. Mungkin, jika broker Century100 tahu bahwa istana ini tidak berpenghuni, bisa menjadi lahan brokering yang menjanjikan.
Mengapa raja IX tidak mau tinggal di istana ini? Usut punya usut, ternyata ada peristiwa kelam yang pernah terjadi di dalam istana ini. Dalam istana ini, kakak dari raja IX, yaitu raja VIII ditembak mati oleh seseorang yang tak dikenal. Sampai saat ini, pelaku penembakan belum ditemukan. Bahkan, Schully dan Mulder pun tidak bisa memecahkan kasus ini...(Jiaah, malah membayangkan film The X-Files, red.).
Tetapi ada untungnya juga bahwa Raja IX tidak mau tinggal di sini karena kita dapat memasuki sebagian besar bagian dalam Grand Palace. Jika beliau tinggal di sini, boro-boro masuk ke dalam, di luar istana pun kita pasti sudah ditangkap pasukan pengawal kerajaan. Istana tempat tinggal raja sekarang tidak bisa dimasuki oleh setiap orang, bahkan penjaganya pun tidak boleh melihat bagian dalam istana.
Wat Arun Mulai Menggenang
Setelah berputar keliling istana, kami pun melanjutkan perjalanan ke Wat Arun. Nama terakhir itu sebenarnya adalah sebuah kuil yang terletak tepat di pinggir sungai Chao Phraya. Untuk sampai ke sana, kita tidak perlu naik bis lagi karena tinggal berjalan melewati pasar dan sampailah kami ke “terminal” kapal motor yang akan membawa kami menyusuri sungai Chao
Phraya dan akhirnya ke Wat Arun.
Kuil Wat Arun adalah kuil agama Budha yang memang berada di distrik atau negara bagian Watarun, tepatnya di Thonburi. Nama War Arun ditahbiskan oleh Raja Rama IV dengan arti candi fajar karena candi ini menghadap matahari terbit dan dulunya merupakan “gerbang selamat datang” bagi para pendatang yang datang melalui sungai Chao Phraya. Struktur utama kuil Wat Arun ini adalah Phra Prang yang berdiri setinggi 81 meter. Prang adalah struktur candi Khmer. Kuil yang sebagian besar dilapisi keramik dan didominasi warna kuning keemasan ini memang dibangun dengan campuran berbagai budaya, terutama Khmer, Thai, dan China.
Sebenarnya, Kuil Wat Arun jauh lebih indah dipandang dari jauh, apalagi pada malam hari. Sinar lampu yang diarahkan ke badan kuil dipantulkan oleh keramik-keramik sehingga memancarkan pesona yang sangat indah. Namun, jika Anda tidak menginjakkan kaki di area kuil itu, Anda akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh suvenir-suvenir murah khas Thailand.
Di samping kuil yang dibangun sejak pemerintahan Raja Rama II memang terletak pasar tradisional. Pasar itu menjual beragam barang yang berbau kepariwisataan, terutama cinderamata. Sayang, saat kami datang, banyak pedagang yang tidak buka lapaknya karena banjir.
Menurut penduduk di sana, jika sungai Chaophraya meluap, sebagian besar pasar itu memang terendam. Air masih tampak menggenang di mana-mana. Tak ape, masih banyak pedagang di belakang pasar yang menjual souvenir. Bisa Anda bayangkan, kapal motor yang tadinya sedikit kosong, sekarang penuh dengan berplastik-plastik oleh-oleh.
Belanja Lagi di MBK
Mah Boon Krong Mall adalah suatu kawasan perbelanjaan terkenal di Bangkok. Bukan semata karena kemegahannya, tetapi karena mal yang dibangun pada 1986 ini terkenal menjual barang murah, terutama pakaian-pakaian bermerek.
Sebenarnya, situasi mal ini tidak jauh beda dengan pusat pertokoan di Indonesia, khususnya di Jakarta. Tidak banyak benda khas Thailand yang dijual. Hal itulah yang membuat sebagian besar rekan Distributor sudah menyerah dan duduk-duduk di sebuah selasar di pojok mal. Untuk beberapa orang yang tidak mempunyai tujuan berbelanja barang tertentu, 2 jam tampaknya sudah cukup untuk mengitari mal seluas 89.000 meter persegi ini. Tetapi, waktu yang diberikan olen panitia sebanyak 4 jam, jadi sudah lebih dari cukup waktu itu untuk berbelanja + pijat refleksi (kalau memang ada).
Makan Sambil Joget atau Joget Sambil Makan?
Jam 8.00 malam, dari pelabuhan yang lebih menyerupai mal, kami dijemput kapal gede untuk makan malam. Makan malam di kapal? Iya, seperti namanya “dinner cruise”, kami memang benar-benar menikmati makan malam di atas kapal yang mengelilingi sungai Chao Phraya. Dalam dinner cruise, kami naik kapal besar yang telah disulap menjadi restoran mewah terapung.
Di sini, Anda bisa menikmati makan malam ditemani temaram lampu kota dan jembatan yang sangat indah. Sebenarnya, pas banget kalau suasana seperti ini dinikmati berdua dengan pasangan.
Romantisnya... Kita juga tidak kalah romantis kok: Rombongan Makan Gratis. Ya gratislah, semua ditanggung oleh High-Desert!
Hidangan lezat yang sangat beragam, seperti kari kambing, lasagna, steak wagyu, dan beragam hidangan premium tidak cukup bertuah menahan kami untuk berlama-lama duduk menikmatinya. Tak lama setelah kami merasakan semua hidangan itu, tanpa dikomando, kami berdiri semua dan
mengelilingi penyanyi berbaju merah yang sedari tadi menghibur kami. Kami pun berjoget, bernyanyi bersama, dan tertawa lepas. Tampak gelora semangat dalam kebersamaan. Cacing dalam perut kami tentu terheran-heran karena baru saja diisi makanan, kami sudah loncat ke sana kemari.
Ternyata kami tidak bergembira sendiri. Melihat kami yang begitu bersemangat, sesama pengunjung kapal tidak bisa tinggal diam. Beberapa tamu dari Irak (kurang begitu yakin, tetapi yang pasti mereka dari bangsa Arab, red.), turun melantai dan berjoget bersama kami. Badan mereka yang gedhe dan besar ternyata masih kalah goyangannya dibandingkan dengan ibu-ibu Distributor yang ukurannyan sepertiga ukuran mereka.
Kegembiraan itu seakan melepaskan hormon endorfin sehingga tubuh pun menjadi bugar walau malam makin larut. Kenangan manis selama perjalanan wisata F3 ini memuncak saat makan malam ini. Menyenangkan!