|
Menurut
ahli kesehatan masyarakat dari Depkes Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, I Made Jaya, pemanasan global merupakan akibat dari rangkaian
fenomena yang saling kait, antara lain pertambahan penduduk, peningkatan permintaan
sumber daya alam, industrialisasi, konsumsi BBM, emisi, peningkatan suhu, mencairnya
es, makin tingginya uap air, dan perubahan arah angin muson.
Dia
mencontohkan, dengan pemanasan global, amplitudo suhu makin besar. Di siang
hari, suhu dapat lebih panas dan lebih dingin di malam hari, tergantung daerahnya.
Kondisi itu saja menyebabkan daya tahan tubuh rawan menurun sehingga manusia
mudah terjangkit penyakit.
Hal
yang lebih mengkhawatirkan, makin merebaknya penyakit akibat perubahan musim.
Dulu, cacar air biasanya pada September dan Oktober. Masuk musim hujan,
pertumbuhan jamur dan virus makin mudah. Namun, kini, sepanjang tahun terdapat
kasus itu, ujarnya.
Kelangkaan
sumber air akibat ketidakteraturan musim dan kegagalan manajemen air akan berpengaruh
terhadap kelangkaan pangan dan penyakit kurang gizi. Agen penyakit juga gampang
bermutasi. Hal ini, misalnya, terlihat dengan kemunculan kasus flu burung dan
influenza A (H1N1). Virus corona, misalnya, bermutasi sehingga menyebabkan SARS.
Banyak
kawasan menghangat sehingga parasit pembawa penyakit, seperti nyamuk, menyebar
ke daerah baru yang tak siap dengan kedatangan pembawa penyakit itu.
[sumber:
kompas.com]
|