Apakah
Anda tahu, kalau setiap bayi berganti popok dalam kisaran 5000 hingga 8000 kali?
Dan kebanyakan, popok yang dipakai adalah jenis sekali pakai.
Apa
yang Anda pakaikan pada buah hati Anda? Jenis yang sekali pakai atau popok kain
yang bisa dicuci? Bila Anda memilih yang jenis sekali pakai, artikel ini mungkin
akan mampu mengubah pilihan Anda.
Kebanyakan
popok sekali pakai melewati proses pemutihan. Proses ini jelas menambah kadar
gas dioksida yang beracun. Pun, tercatat 250.000 pohon ditebang setiap tahun
untuk memproduksi popok bayi. Data itu adalah untuk bayi di Amerika, bukan untuk
untuk seluruh dunia.
Setelah
dipakai, popok itu akan berakhir di daratan, bersamaan dengan sampah-sampah
lain. Popok itu pun merusak tanah, meracuni air tanah, dan menjadi medium penyebaran
parasit, virus, dan bakteri.
Pun,
selain dari faktor lingkungan, popok sekali pakai dapat berakibat buruk bagi
kesehatan bayi Anda.
Popok
biasanya mengandung super absorbent polymer (SAP). SAP merupakan jenis
polimer yang mampu menyerap air hingga 8 kali beratnya, berubah menjadi jel
ketika basah sehingga mampu membuat bayi tetap kering dan tidak mengalami ruam-ruam.
Efek
buruknya adalah bila popok robek saat dipakai, walau sekecil apa pun robekan
itu. SAP bisa tertinggal di kulit bayi dan menyebabkan iritasi kulit dan saluran
pencernaan, bila SAP itu tanpa sengaja tertinggal di mulut bayi.
Selain
itu, penggunaan popok akan mempersulit latihan buang air yang seharusnya dijalani
oleh setiap bayi. Penelitian menemukan, bayi yang menggunakan popok kain memulai
latihan menggunakan toilet hingga setahun lebih cepat daripada bayi yang menggunakan
popok sekali pakai.
Nah,
kini Anda punya dua alasan kuat untuk memakaikan popok kain pada anak Anda,
bukan popok sekali pakai yang akan merusak lingkungan dan berpotensi mengganggu
kesehatan buah hati Anda.
[sumber:
thegreenguide.com]